Kamis, 04 Oktober 2012

Si Pemalas Mencari Inspirasi



Banyak kata yang ingin aku tuliskan. Banyak judul yang pengin aku torehkan. Semua mengisahkan tentang asa dan hidupku. Namun aku tak bisa. Sekali lagi aku tak kuasa. Haruskan aku salahkan sang waktu yang terus berjalan ke depan? Apa memang aku ini pemalas yang suka tidur?
Aku ingin seperti para pedagang pasar yang mulai beraktivitas di kala subuh. Tapi aku bukanlah pedagang. Aku kerap iri dengan mereka yang berduit dan berlimpah harta. Hati kecilku mengatakan perjuangan mereka tidaklah mudah. Mungkin juga faktor keberuntungan dan takdir yang digariskan Ilahi.
Aku hanya bisa berangan-angan tanpa bertindak. Aku hanya bisa termenung tanpa berbuat. Haruskah seperti ini? Istriku dan anakku semata wayang pun enggak mungkin tahu kepenatan otakku. Aku hanya berpikir dan berpikir. Aku haru berubah. Dulu waktu kuliah saja berani bekerja keras sampai tubuh kerontang. Kini dengan tubuh tambun dan perut buncit seolah menjadikan berat bekerja.
Tapi harus dari manakan harus kumulai? Ya, dari tulisan ini semua pekerjaan baruku dimulai. Karena baru ini yang bisa aku lakukan untuk menatap masa depan yang masih ghaib. Entah apa judul tulisan ini. Aku sendiri pun enggak tahu.
Banyak inspirasi yang terpedam. Tak ada linggis atau apa yang mampu membuka kuburan inspirasi itu. Mulai inspirasi membuat novel dengan bahan-bahan yang tersedia warisan nenek istriku tercinta. Inspirasi menuliskan kosepsi zakat untuk kesejahteraan umat sampai inspirasi ekonomi syairah.
Malam ini, 4 Oktober 2012. Aku dapat jatah piket di kantor yang terletak di perbatasan Solo-Karanganyar paling barat. Sembari menunggu perintah bos, aku pun mencoba mencari buku tentang ekonomi islam. Priyono, temenku satu kantor memberiku dua buku. “Ini Tri, silakan kalau mau dipinjam. Ada lagi enggak yang dicari?” tanya dia menawarkan bantuan.
“Enggak kok mas, cuma pengin baca saja. Makasih lho mas,” ujarku. Selain melihat judul dan penulisnya, aku pasti melihat daftar isinya dulu sebelum membaca isinya. Sekilas buku pertama yang ditawarkan Priyono cukup berat dengan jumlah halaman lebih dari 300 halaman. Berbeda dengan buku kedua yang tipis, paling hanya separuhnya saja. Cukup berat buku karya ekonom asal timur tengah itu. Hampir semua isinya menerangkan tentang teori islam dan komprasinya dengan teori kapitalis. Butuh energi lebih untuk mengerti setiap kalimatnya.
Berbeda dengan buku seorang doctor dengan nama Indonesia itu yang berjudul Menimbang Ekonomi Islam. Pokok bahasannya masih menjelaskan tentang konsep teks dalam Alquran, bukan pada konsep aplikatif. Bagi para mahasiswa yang mengaji persoalan ekonomi islam pasti akan cukup membantu sebagai referensi. Namun bagi si pencari inspirasi seperti aku, hanya menambah pemahaman saja karena enggak mungkin semua isinya dibaca, hehehehe…………………..



















Tidak ada komentar: